Senin, 21 September 2009

Sedikit Analisa Mengenai Masalah Indonesia dengan Malaysia

Indonesia sebagai negara tetangga Malaysia seringkali dirugikan oleh pihak Malaysia. Setidaknya abstraksi inilah yang tergambar ketika kita menonton ataupun membaca berita-berita dari media Indonesia, seperti masalah kepulauan dan wilayah laut ambalat, masalah perlakuan TKI, masalah perbatasan, dan masalah-masalah perebutan klaim seni dan budaya Indonesia. Pihak Indonesia selalu saja dirugikan, dan Malaysia selalu saja mencari gara-gara dengan Indonesia. Beginilah asumsi publik Indonesia terhadap Malaysia, namun pernahkah kita berfikir bahwa sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi. Seharusnya Malaysia dan Indonesia dapat bersinergi untuk melakukan kerjasama-kerjasama yang saling menguntungkan dan berorientasi terhadap tercapainya cita-cita kawasan Asia tenggara. Yang menjadi dasar pertanyaan adalah mengapa asumsi seperti ini bisa terbentuk di Indonesia? Dan bagaimana proses terbentuknya asumsi publik rakyat Indonesia terhadap Malaysia yang demikian?
Rakyat Indonesia adalah rakyat yang masih tergolong tingkat menengah kebawah jika dilihat dari segi pendidikan, yang artinya mereka belum mampu untuk menganalisa sedemikian baik apa inti masalah yang sedang dihadapi dan apa seharusnya yang menjadi solusi, sebaliknya mereka baru mampu mengandalkan emosi mereka yang terkadang sama sekali tidak terkontrol untuk mencari atau bahkan mensolusikan suatu masalah. Sehingga rentan sekali bagi rakyat Indonesia untuk dihasut oleh pihak ke tiga. Sedikit saja suatu isu yang mengandung tingkat kepekaan masyarakat tinggi dilempar ke masyarakat, rakyat Indonesia sering kali menanggapinya dengan emosional yang tidak terkontrol tanpa menggunakan kecerdasan intelektualnya. Banyak contoh isu-isu tidak lengkap yang ditangkap oleh masyarakat Indonesia dan segera direspon dengan cara-cara yang tidak tepat. Seperti contohnya, isu likuiditas bank yang langsung mengakibatkan nasabah-nasabah bank panik lalu bertindak sendiri tanpa berfikir logis dan kritis, isu mengenai larangan berjilbab bagi kaum wanita di Perancis yang sebenarnya karena negara tersebut adalah negara sekuler, dan termasuk isu-isu pengakuan Malaysia tentang kekayaan budaya dan seni asal Indonesia. Mari kita analisa, Pertama mengenai isu likuiditas bank sangat memungkinkan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin menjatuhkan perbankan kita. Isu kedua larangan berjilbab di Perancis adalah sangat beralasan karena negara tersebut sekuler (yaitu memisahkan segala sesuatu yang bersifat pribadi seperti agama di dalam lingkup publik atau masyarakat) dan bahkan simbol-simbol keagamaan disana juga tidak boleh dikenakan (kenyataanya tidak hanya jilbab atau kerudung, kaum katolik pun dilarang mengenakan kalung berbentuk salip di Perancis namun berita ini tidak pernah di ekspos oleh media di Indonesia). Dan kasus terakhir ini yaitu masalah Malaysia yang mengklaim bahwa sebagian budaya Indonesia juga merupakan warisan nusantara yang berarti Malaysia juga berhak atas itu, ini juga cukup beralasan, karena Indonesia dan Malaysia adalah negara yang hidup berdampingan tidak hanya sekarang, namun sejak terciptanya alam semesta ini, sehingga besar kemungkinan terjadi kemiripan ataupun kesamaan budaya, dan seiring dengan kemajuan teknologi yang sedemikian canggihnya sehingga bahkan kita (orang Indonesia) dengan mudah bisa meng-unduh video tarian-tarian orang Amerika Serikat dari internet dan menirunya untuk lalu kemudian kita akui sebagai karya kita, ditambah lagi alasan bahwa banyaknya tenaga kerja Indonesia yang tinggal di Malaysia telah banyak mempengaruhi budaya Malaysia itu sendiri sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa orang jawa/bali tinggal disana untuk bekerja dan juga menyebarkan budayanya masing-masing seperti reok ponorogo ataupun tari pendet, mengingat alasan-alasan tersebut hal ini sah-sah saja bukan. (hanya sekedar informasi bahwa semua negara-negara di Eropa yang tergabung di Uni Eropa telah lama menyadari bahwa kemajuan teknologi dan informasi akan secara cepat menyebarkan budaya-budaya mereka dari negara satu ke negara yang lain. Sudah banyak budaya-budaya Perancis yang di akui oleh negara-negara seperti Belgia ataupun negara-negara eropa lain bahkan negara-negara di dunia pun memiliki kesempatan yang sama untuk mengklaim budaya negara lain, oleh karena itu Uni eropa sudah bersikap terbuka dan toleransi terhadap hal ini sehingga tidak ada keributan yang tidak perlu diantara negara anggota uni eropa)
Mengenai proses terbentuknya asumsi publik Indonesia yang sedemikian kacaunya, saya berasumsi bahwa sebenarnya terdapat banyak faktor, namun faktor yang paling besar pengaruhnya adalah pemberitaan media-media di Indonesia yang sedemikian provokatif dan kurang akurat sehingga masyarakat merespon dengan tindakan-tindakan dan sikap-sikap yang tidak tepat pula. Peran media sangatlah sensitif di masyarakat yang bertaraf pendidikan menengah kebawah karena informasi-informasi yang ditangkap oleh masyarakat dengan mudah dicerna dan dipercaya namun tidak disertai dengan sikap kritis terhadap informasi-informasi tersebut. Sehingga media mampu memainkan perannya secara politis demi tujuan utamanya yaitu mencari keuntungan sebesar-besarnya secara ekonomis. Kata-kata “apapun jadi demi uang” sepertinya cocok untuk menggambarkan apa sebenarnya tujuan media dengan segala beritanya. Sebaiknya mulai saat ini apapun berita yang diberitakan masyarakat haruslah bersikap kritis terlebih dahulu mengenai apa yang mereka tangkap agar tidak terjadi kasalahpahaman dan tindakan-tindakan yang tidak perlu. Copy right – Indra ^%

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar